Tourism and Culture | September 08, 2016 at 10:46 AM post by aiskai (view 2591)

BILA berkesempatan melakukan kunjungan ke Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa Utara, memang ada beragam objek menarik yang bisa dijumpai. Terutama yang berhubungan dengan objek wisata bahari. Namun jarang yang tahu kalau di sini terdapat satu objek wisata sejarah yang menarik dikunjungi yaitu Penjara Tua Kema.

Iya, menyebut nama Kema, mungkin bisa langsung terbayang ragam jenis ikan, karena memang di sini salah satu pusat perikanan laut di Sulut. Atau menyebut Kema, bisa melanglangkan pikiran sejumlah objek wisata bahari di Minahasa Utara, seperti Pantai Firdaus, atau kawasan wisata Batu Nona.

Namun di Kema juga punya destinasi wisata sejarah. Karenanya, menjadi satu perjalanan menarik, bila berkunjung ke Kema, penjara tua peninggalan Portugis ini bisa dimasukkan sebagai salah satu daftar kunjungan. Apalagi lokasinya tak jauh dari jalan raya utama, serta dekat dengan beberapa lokasi wisata dan pusat pelelangan ikan.


Penjara Tua Kema ini diperkirakan sudah ada pada abad ke-16 , dibangun pada masa Portugis. Letaknya di tengah perkampungan di Desa Kema III, Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa Utara. Untuk sampai ke desa ini, butuh sekira dua jam dari Manado (ibukota Sulawesi Utara) atau satu jam dari Airmadidi (ibukota Minahasa Utara). Akses perjalanan ke tempat ini pun relatif mudah dengan kondisi jalan yang baik.

Di masa lalu, penjara tua ini dikenal sebagai lokasi yang menakutkan. Namun sekarang tidak ada kesan angker berada di area penjara tersebut. Bahkan saat ini, penjara tersebut diapit oleh rumah-rumah penduduk yang padat.

Karenanya, ketika mengunjungi tempat ini, terkesan penjara tersebut seperti rumah penduduk. Mengingat, Penjara Tua Kema ini berada di gang kecil, berdempetan dengan rumah penduduk. Gang itu sebagai ‘pintu gerbang menuju ke lokasi penjara.

Namun bentuk bangunan penjara berbeda dengan rumah-rumah sekitarnya. Bangunan penjara ini berdinding tinggi dengan atap pendek. Ukuran panjang bangunan sekira 10 meter, lebar 7,5 meter, dan tinggi dinding 4 meter atau ditambah 2 meter lagi sampai ke ujung atap.

Penjara tua ini terdapat tiga bilik, dengan ukuran berbeda-beda. Setiap bilik terdapat pintu kayu kokoh yang semuanya menghadap lobi penjara. Dindingnya terbuat dari susunan batu yang direkatkan campuran pasir dan kapur, dan kemudian diplester dengan campuran kapur dan pasir.

Ketebalan dinding penjara ini sekira 50 cm. Di setiap bilik terdapat lubang angin yang berada di bagian pintu dengan terali dan di bagian dinding luar bangunan.

Menurut penduduk setempat penjara tua ini memang sudah mengalami renovasi. Beberapa bagian dinding sudah diperbaiki, begitu juga dengan seng, dan sebagian penyangga atapnya. Namun pintu kayu ini penjara ini masih asli.

Masyarakat setempat pun sangat menjaga objek wisata bersejarah ini. Setidaknya ini terlihat kondisi bangunan penjara yang relatif terjaga. Tidak corat-coret, baik mulai dari pintu gerbang hingga dinding penjara. Lokasinya pun bersih dan tertata rapi. (ak)