Inspiring Figures | September 05, 2016 at 08:00 AM post by yehabe (view 2283)

SUASANA rumah itu tampak sejuk, Puluhan pot tanaman hias serta pohon buah indah tertata di halaman rumah yang dominan dicat dengan warna orange. Kicauan burung bersahutan terdengar di antara rimbunan pepohonan. Setelah beberapa kali sapaan Assalamualaikum dari kru Expose Manado,  akhirnya sang tuan rumah membalasnya sambil membukakan pintu.  Ratman Asrar, pemilik rumah nan asri itu.  Sang koletor foto tua Manado dan barang-barang antik tempo dulu. 

Ratman merupakan generasi ketiga yang menjaga serta merawat barang-barang antik yang sudah berumur ratusan tahun. Suasana jadi berbeda di dalam rumah ketika terdengar lantunan Lagu Hey Jude milik The Beatles. “Hey jude, dont make it bad.Take a sad song and make it better.Remember to let her into your heart,Then you can start to make it better.” Lirik itu benar benar membawa kami pada masa tempo dulu. Tidak diputar lewat MP3 atau tape recorder, namun lagu merdu milik The Beatles tersebut langsung diputar dengan turn table atau alat pemutar piringan hitam. Kami hanya bisa terdiam dan menikmati lantunan lagu dengan alat putar langka tersebut. 

Berada di ruang tamu berukuran 3 x 4 meter milik Ratman membuat kami terasa seperti berada di dalam galeri barang antik. Walaupun penasaran, kami agak sedikit takut menyentuh barang barang yang beberapa sudah berusia ratusan tahun itu. Di salah satu dinding terpajang foto hitam putih tentang pesisir Manado dengan dua buah kapal besar dengan backround Pulau Manado Tua. Tertulis foto tersebut diambil pada tanggal 11 Juli 1926. Di sisi lainnya terpajang foto besar kira-kira berukuran 80 x 40 cm yang memotret situasi Pasar Cita (area di depan Shopping Centre sekarang), foto tersebut diambil tahun 1952. Kebanyakan foto-foto tersebut diambil langsung oleh kekeknya dengan menggunakan kamera Yasica Mat-124G yang memang terlihat sudah sangat tua dan juga terpajang di ruangan itu. Ada juga beberapa foto tentang dinamika kependudukan Belanda dan Jepang khususnya di Kota Manado. Di antara beberapa foto tersebut memuat gambar kakeknya yang memang dibilang dekat dengan petinggi Belanda dan mendapat kepercayaan untuk mengelola beberapa usaha perdagangan Belanda. Tidak hanya sejumlah foto dengan nilai yang tinggi, koleksi barang antik milik Ratman juga sangat beragam mulai dari kamera jaman dulu, uang kertas, uang koin, keramik, sampai dengan catatan harian dari sang kakek. “Ini catatan terakhir dari kakek saya. Kendati sudah sakit dia masih sempat menuliskan catatan hariannya namun dengan tulisan yag sudah sedikit berantakan," ungkap Ratman.

Koleksi sang kakek juga banyak terkait dengan dunia jurnalistik, di mana dalam beberapa sudut ruangan terdapat beberapa koran lokal Manado berumur ratusan tahun. “Ini Koran Tjahja Sijang, terbitan tahun 1894, ini Koran Sinar Harapan asli terbitan hari Selasa tanggal 8 Februari 1965, dan ini jilidan rangkuman ‘Kemajuan Rakjat’ tahun 1937,“ tegasnya.  Ratman mengatakan banyaknya barang yang terkait dengan jurnalistik karena sang kakek juga pernah menjadi bagian dari penerbitan yang ditandai dengan ‘Tanda Anggota’ wartawan harian Pahlawan Manado. 


Foto karya Manaf Asrar, Sang Ayah

Dari banyak koleksi barang antik yang tersimpan, Ratman mengakui ada beberapa koleksi yang disenangi dan sangat dijaga diantaranya alat hitung Sempoa yang merupakan pemberian Belanda kepada kakeknya.  Adapula satu alat musik Gramafon milik kekeknya yang memang saat ini masih berada di tangan salah satu keluarganya. “Itu Gramafon tahun 1952 yang unik dan sangat bernilai. Yang pasti saya akan berusaha untuk mengembalikan barang tersebut di galeri keluarga. Selain itu ada buku tentang Ensiklopedia Indonesia yang diterbitkan oleh pemerintah Belanda. Buku itu sudah ada yang menawar dengan harga jutaan tapi tidak saya berikan,” ujarnya

Sebagai salah seorang yan berkecimpung dengan Pemerintah Belanda, sikap disiplin sangat melekat ada pada sosok sang kakek. Lihat saja beberapa catatan kecil ukuran saku yang selalu dibawa dimana saja beliau pergi atau keluar daerah. “Ini catatan kecil yang selalu dibawa oleh kakek saya. Dia menulis dalam catatan buram, dan akan disalin lagi di buku besar yang sangat rapi. Isi catatan adalah semua yang terkait dengan dinamika hidup, jika ada yang tidak berpuasa, atau ada yang yang sakit pada hari itu pasti masuk dalam catatannya,” ujar Ratman.

Ratman sendiri memiliki kerinduan untuk membuat museum kecil untuk koleksinya dan foto foto Manado tempo dulu milikinya. Selain itu ada obsesi untuk membuka usaha bertema vintage. “Saya punya kerinduan untuk membuka usaha dengan tema tempo doeloe, sebab barang klasik dan tempo dulu ada pada saya, namun masih terkendala dengan modal,“ ujar suami dari Hanan Chadullah ini. Bagi ayah dari dua orang anak ini, menjaga barang- barang peninggalan keluarga sama dengan menghargai jasa orang tua, “Dan saya berharap ini akan diteruskan oleh anak anak saya,“ tegasnya.  Masih banyak koleksi barang antik milikinya yang belum tertata rapi di vruangan ini. Masih banyak barang-barang yang berumur puluhan bahkan ratusan tahun disimpan dalam gudang samping rumahnya. Barang-barang itu antara lain alat cetak photo hitam putih asli beserta perangkatnya, kaset lagu yang berumur tua serta beberapa produk keramik dan tembaga yang merupakan barang berharga dan memiliki nilai yang sangat tinggi.(Jws)